aksel 10 Padmanaba 68
Debat “Bangsa” di Kejaksaan
Sebenarnya, memang saya yang salah karena 2 minggu yang lalu saya teledor salah melihat lampu merah dan terhitung melanggar lalu lintas, ok, saya mengaku salah atas keteledoran ini.
baru hari ini saya bisa ambil STNK saya di kejaksaan karena sedang ada ujian.
Yang diperdebatkan justru out of topic dari STNK
Karena pelanggarnya cuma saya saja, ya sudah, saya bacot yang menurut saya benar.
“Pak, kok Bapak ngrokok si di Kejaksaan, gak baik tau buat kesehatan”
“Halah, kata siapa?”
“Ya kata saya tadi” (piye tho)
beberaa menit kemudian, saya berpura-pura batuk yang berlebihan
“kenapa batuk dek?”
“ROKOK, PAK!”
—————————————————————————————————————————————————-
“Dek, kamu buat surat pernyataan ya, kalo gak nanti kamu harus ke polres untuk melapor kalau STNK-mu sudah diambil”
nah, karena sebenarnya bapak kejaksaan tersebut berbicaranya terbelit-belit, jadi saya kurang bisa menangkap informasinya. Setelah saya menerima STNK saya, saya pun bertanya apakah saya harus ke polres untuk melaporkan hal tersebut, ternyata TIDAK! lha?
“Lha, tadi kata bapak harus lapor!”
“ya kan tadi udah lewat sini”
“WAH, HUKUM DI INDONESIA MASIH BISA DI MANIPULASI YA”
semua orang di tempat formal itu TERDIAM
gimana coba untuk kasus-kasus yang lebih besar?
saya pun membayar denda, lha kok gak dikasih kuitansi? apakah itu PUNGLI?
Hal yang sangat membuat saya sebal:
“Lha dek, mau kemana?”
“Mau pulang lah pak!”
“Ngapain?”
“Belajar lah, pak”
“HALAH, NGAPAIN BELAJAR?”
mulai terbawa emosi
“LAH! GIMANA INDONESIA MAU MAJU KALAU WARGANYA SENDIRI GAK MAU BELAJAR?MAU BERKEMBANG TERUS, PAK!!”
—————————————————————————————-
Negara itu terdiri atas rakyat, rakyat itu adalah komponen negara, kalo rakyatnya sendiri gak mau maju, gimana Indonesia mau maju? yo ra?








